Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan kebulatan tekad. Jika ada tekad, akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah. Berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat kepada Yang Maha Pengasih.
1. Programlah aktivitas Anda di hari yang malamnya Anda rencanakan untuk qiyamulail agar memungkinkan Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.
2. Pahamilah bahwa Anda punya kebutuhan jasmani, aqli, dan ruhani, serta Anda wajib memenuhinya dengan seimbang.
3. Hindari maksiat. Sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”
4. Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu Anda termotivasi untuk melaksanakannya.
5. Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
6. Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.
7. Baik juga jika Anda janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone yang Anda miliki.
8. Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program qiyamullail bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.
9. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.
Untuk lebih detail lihat di dakwatuna.com
Selasa, 16 Juni 2009
Sabtu, 13 Juni 2009
KUCING DAN AYAM
Kisah ayam dan kucing dalam tulisan ini saya dapat dari ekkei.com.
Apa yang membedakan kucing dan ayam, life style apa yang mereka jalani, dan result apa yang mereka peroleh?
Kucing adalah hewan pemalas. Kalau siang kerjaannya cuman tidur di kolong meja atau ranjang, kadang nangkring dan ngorok di atas kursi. Kalau majikannya lengah, dia meloncat ke meja makan dan menyikat lauk pauk jatah makan siang kita.
Ketika malam bergulir, pada saat semua tidur dan beristirahat si kucing ini malah menyelinap keluar dan asyik nongkrong di atas pagar liatin apapun yang bisa dilihat. Si kucing ini betah banget nonkrong diem ndak melakukan aktifitas apapun, cuman manyun nangkring diatas pagar. Aktifitas yang sungguh sangat tidak produktif.
Hasilnya? Dia sering digebuk sapu karena nyolong lauk kita. Reputasinya sebagai pembasmi tikus sudah luntur dan tinggal cerita saja. Dan tragisnya, kucing ini mau kawin aja pakai acara berantem dulu. Pernah lihat atau denger kucing mau kawin? Ribut banget kan?
Dilain pihak, ayam adalah contoh perilaku dari gaya hidup yang super disiplin.
Ketika sore menjelang, dia sudah nangkring di peraduan. Meskipun di dekat peraduannya ada pertunjukan wayang kulit, dia ndak bakalan turun cuman buat liat-liat. Baginya waktu tidur harus efektif sebagai waktu istirahat. Dia juga ndak peduli dengan keasyikan si kucing yang hobi nongkrong di atas pagar.
Pagi menjelang, dialah yang paling dulu bangun, dan tidak lupa melakukan aktifitas rutin, membangunkan seisi alam semesta dengan nyaring suara kokoknya. Sebuah aktifitas bermanfaat yang rutin dia lakukan tanpa pamrih.
Puas membangunkan alam semesta, dia langsung nyeker-nyeker tanah mencari makan, terus sampai perutnya kenyang. Hasilnya, jam 6 pagi perutnya udah kenyang, dan mungkin dia udah kawin 5 kali sepagi itu. Tidak ada perang mulut atau saling cakar. Aktifitas kawinnya penuh kemesraan dan keikhlasan. Hidup ini penuh berkah bagi sang ayam.
Siapakah kita? Si kucing atau sang ayam?
Pingin jadi seperti sang ayam? Sanggupkah kita melaksanakan semua aktifitas bermanfaat itu? dengan penuh kedisiplinan?
Mau jadi si kucing aja? Enak kok, seharian bermalasan, kalau malem nongkrong, butuh makan tinggal menunggu majikan lengah. Tapi sanggupkah kita membayar konsekuensinya?
Apa yang membedakan kucing dan ayam, life style apa yang mereka jalani, dan result apa yang mereka peroleh?
Kucing adalah hewan pemalas. Kalau siang kerjaannya cuman tidur di kolong meja atau ranjang, kadang nangkring dan ngorok di atas kursi. Kalau majikannya lengah, dia meloncat ke meja makan dan menyikat lauk pauk jatah makan siang kita.
Ketika malam bergulir, pada saat semua tidur dan beristirahat si kucing ini malah menyelinap keluar dan asyik nongkrong di atas pagar liatin apapun yang bisa dilihat. Si kucing ini betah banget nonkrong diem ndak melakukan aktifitas apapun, cuman manyun nangkring diatas pagar. Aktifitas yang sungguh sangat tidak produktif.
Hasilnya? Dia sering digebuk sapu karena nyolong lauk kita. Reputasinya sebagai pembasmi tikus sudah luntur dan tinggal cerita saja. Dan tragisnya, kucing ini mau kawin aja pakai acara berantem dulu. Pernah lihat atau denger kucing mau kawin? Ribut banget kan?
Dilain pihak, ayam adalah contoh perilaku dari gaya hidup yang super disiplin.
Ketika sore menjelang, dia sudah nangkring di peraduan. Meskipun di dekat peraduannya ada pertunjukan wayang kulit, dia ndak bakalan turun cuman buat liat-liat. Baginya waktu tidur harus efektif sebagai waktu istirahat. Dia juga ndak peduli dengan keasyikan si kucing yang hobi nongkrong di atas pagar.
Pagi menjelang, dialah yang paling dulu bangun, dan tidak lupa melakukan aktifitas rutin, membangunkan seisi alam semesta dengan nyaring suara kokoknya. Sebuah aktifitas bermanfaat yang rutin dia lakukan tanpa pamrih.
Puas membangunkan alam semesta, dia langsung nyeker-nyeker tanah mencari makan, terus sampai perutnya kenyang. Hasilnya, jam 6 pagi perutnya udah kenyang, dan mungkin dia udah kawin 5 kali sepagi itu. Tidak ada perang mulut atau saling cakar. Aktifitas kawinnya penuh kemesraan dan keikhlasan. Hidup ini penuh berkah bagi sang ayam.
Siapakah kita? Si kucing atau sang ayam?
Pingin jadi seperti sang ayam? Sanggupkah kita melaksanakan semua aktifitas bermanfaat itu? dengan penuh kedisiplinan?
Mau jadi si kucing aja? Enak kok, seharian bermalasan, kalau malem nongkrong, butuh makan tinggal menunggu majikan lengah. Tapi sanggupkah kita membayar konsekuensinya?
Langganan:
Entri (Atom)
